Breaking News

Berbahaya Bagi Otak, Ini Kata Dokter Sumarnam Soal Penggunaan Thermo Gun



Sorong papua barat - tabloid npp.Dengan beredarnya kabar tentang bahaya penggunaan thermo gun pada kepala, ditepis langsung dr. Sumarnam Sp.PD. Diungkapnya, dari sejumlah informasi yang beredar, disebutkan bahwa thermo gun berbahaya karena dapat merusak otak.


“Kita harus mensosialisasikan lagi terkait penggunaan thermo gun. Memang yang saya lihat di koran-koran dan sebagainya, sudah banyak pembahasan mengenai thermo gun itu sendiri,” kata dr. Sumarnam saat diwawancarai wartawan seusai mengikuti rapat evaluasi antara Walikota Sorong, Satgas Covid-19 dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Aula Samu Siret Kantor Walikota Sorong, Rabu (9/9/2020).



Menyangkut kabar tersebut, sudah banyak media yang mengulas bahwa informasi itu adalah berita bohong/hoax. Menurutnya, Suatu kesalahan jika dikatakan bahwa thermo gun dapat merusak otak. Thermo gun merupakan salah satu jenis termometer inframerah (infrared), bukan laser.

Selain itu, thermo gun mempunyai penanda merah, namun tanda tersebut merupakan infrared yang aman untuk digunakan. Thermo gun dijual bebas karena pada dasarnya aman untuk digunakan. 



“Thermo gun itu digunakannya di kepala. Tidak ada aturan digunakan di tangan. Pemeriksaan suhu itu di kepala. Kenapa? Karena begitu kita mencuci tangan, suhu di tangan kita sudah turun. Bagi warga yang menolak dengan keras pemeriksaan suhu, kami curigai bahwa orang tersebut sedang mengalami demam,” jelas dokter.

Ditegaskan juga, masyarakat tidak lagi percaya dengan kabar bohong menyangkut thermo gun yang dapat merusak otak. Untuk pemeriksaannya tetap dilakukan di kepala, karena setiap alat thermo gun yang digunakan di Indonesia, sudah terstandarisasi dan aman untuk digunakan.

“Bisa kita lihat beberapa alat sudah ada SNI-nya. Artinya, sudah terstandarisasi. Penggunaan thermo gun juga tidak memiliki efek samping,” papar dr. Sumanam.

Dirinya juga meminta kepada anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), agar dapat melakukan edukasi menyangkut pengukuran suhu yang benar. Hal ini untuk menepis berita hoax yang tersebar di masyarakat, sehingga warga tidak perlu takut lagi jika dilakukan pengukuran suhu di kepala. 

“Kita selalu memberikan sosialisasi, dalam hal ini rumah sakit. Coba saja ke Sele be Solu, mereka pasti melakukan pengukurannya dikepala. Selain rumah sakit, kami juga menerapkan protokol kesehatan di puskesmas. Hanya saja seperti di bank, tempat-tempat umum, pasar dan lainnya, kami tidak bisa melakukan pengawasan terus-menerus,” ujar dokter. 

Ditambahnya, ruang isolasi di RS. Sele be Solu saat ini sudah penuh. Pasien di rujuk ke RSUD Kabupaten, namun dari pihak rumah sakit tersebut menolak dengan alasan kondisi ruangan sedang penuh. Akhirnya pasien dirujuk ke RS Angkatan Laut (AL) yang kebetulan memiliki ruangan kosong.

“Di waktu sebelumnya atau beberapa bulan lalu tidak pernah penuh. Selalu ada. Pasien kami rawat dan begitu kondisinya membaik, kami secepatnya memindahkan ke fasilitas karantina. Kalau di rumah sakit, isolasi hanya untuk pasien yang bergejala dan sedang gejala berat. Tapi untuk gejala ringan ataupun tanpa gejala, kami biarkan mereka karantina mandiri,” ucap dokter.

Terkait kapasitas ruangan isolasi di RS. Sele be Solu, lanjutnya, terdiri dari lima bed untuk pasien yang sakit ringan, dan satu bed untuk pasien yang sakit sedang dengan fasilitas isolasi ICU.

Alat Kesehatan (Alkes) untuk sarana kesehatan masih cukup memadai. Akan tetapi, jika dilihat dari penambahan jumlah pasien Covid-19 di Kota Sorong, pihaknya berkeinginan untuk membuka suatu fasilitas seperti ruangan baru. Namun dalam hal ini, ada banyak yang harus dipikirkan seperti, layak tidaknya ruangan tersebut, fasilitas pertukaran udara dan juga tenaga kesehatan.

“Seperti yang kita dengar, ada rumah sakit swasta yang sudah melakukan penutupan lagi. Hal ini karena beberapa petugasnya terpapar Covid-19. Itu memang salah satu langkah rumah sakit untuk melindungi masyarakat. Selain itu, dengan melakukan penutupan dan sterilisasi, petugas-petugasnya diistirahatakan dan melakukan pemeriksaan lanjut. Seandainya tidak terinfeksi, maka akan dibuka kembali,” ujar dr. Sumarnam diakhir wawancara.

"Tidak ada aturan untuk thermo Gun di gunakan di tangan" 

(Timo)

Tidak ada komentar