Breaking News

Wibisono : Pertumbuhan Ekonomi Stabil Diangka 5%, Meragukan


Jakarta, Tabloid NPP - Kementerian Keuangan menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sementara tembus Rp.353 triliun sepanjang 2019. Defisit tersebut mencapai 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi defisit tersebut meningkat dari posisi 2018 yang hanya sebesar Rp.269,4 triliun atau 1,82 persen dari PDB. Sementara, secara persentase terhadap PDB, defisit Desember bisa dibilang tak jauh berbeda jika dibandingkan November 2019 yang sebesar 2,29 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan peningkatan defisit terjadi karena realisasi penerimaan negara masih jauh di bawah belanja negara. Sebagai informasi, penerimaan negara baru mencapai  Rp.1.957 triliun atau hanya 90,4 persen dari target di APBN 2019 yang sebesar Rp.2.165,1 triliun.

Sementara itu menurut Pengamat Kebijakan Publik Wibisono mengatakan Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 5 tahun terakhir 'stabil' di sekitar 5 persen. Untuk 2015-2019, masing-masing 4,88 persen, 5,03 persen, 5,07 persen, 5,17 dan 5,02 persen.

"Pertumbuhan ekonomi selama 5 tahun yang 'stabil' ini mengundang pertanyaan, termasuk dari pihak asing. Secara gamblang, Gareth Leather dari Capital Economics yang berbasis di London menyatakan keraguannya: “We don’t have much faith in Indonesia’s official GDP figures, which have been suspiciously stable over the past few years”.

Keraguan terhadap data pertumbuhan ekonomi Indonesia ini masuk akal, karena aktivitas ekonomi selama 5 tahun terakhir sebenarnya sangat fluktuatif," ujar Wibi kepada awak media di Jakarta, Sabtu (15/2/2020)

Lanjut Wibi, "Ekspor dan impor bergejolak, sedangkan Investasi anjlok. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, bagaimana mungkin pertumbuhan ekonomi bisa 'stabil' terus.

Misalkan, data pertumbuhan ekonomi 2018 dan 2019 dari Konsumsi Rumah Tangga bisa sama, 2,74 persen dan 2,73 persen? Padahal banyak yang merasa daya beli masyarakat sedang turun. Seiring dengan kenaikan bermacam-macam biaya hidup yang menguras kantong masyarakat.

Pengertian 'pertumbuhan ekonomi' cukup abstrak bagi non-ekonom. Jadi perlu penjelasan yang sangat sederhana dan mudah dicerna awam," imbuhnya.

"Perubahan data inflasi bisa membuat perhitungan pertumbuhan ekonomi berubah drastis. Dari yang awalnya 0 persen menjadi 5,77 persen.

Mengikuti logika, mari kita lihat lebih detil data inflasi (atau deflator) yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi 2019. Deflator atau inflasi digunakan untuk koreksi dari nilai nominal menjadi nilai riil.
Aktivitas ekonomi sisi permintaan terbagi menjadi (intinya) Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Pemerintah, Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto = PMTB), dan Ekspor-Impor. Deflator untuk masing-masing kategori bisa berbeda. Pertanyaannya, apakah perbedaan ini masuk akal?," terangnya.

"Perhitungan dari data BPS menunjukkan inflasi untuk Konsumsi Rumah Tangga 2019 sebesar 3,16 persen. Menghasilkan sumber pertumbuhan dari Konsumsi Rumah Tangga menjadi 2,73 persen (dari 5,02 persen pertumbuhan ekonomi 2019). Kalau kita lihat per triwulan (Q), kenaikan harga 2019 masing-masing 2,8 persen (Q1), 3,11 persen (Q2), 3,32 persen (Q3) dan 3,38 persen (Q4). Artinya kenaikan harga terus meningkat setiap triwulan," ulas Wibi.

"Sedangkan kenaikan harga untuk Konsumsi (Belanja) Pemerintah pada 2019 hanya 0,43 persen. Ironi, karena kenaikan harga sangat rendah dibandingkan Konsumsi Rumah Tangga?, Data triwulanan juga menunjukkan kebalikan dari Konsumsi Rumah Tangga. Kenaikan harga untuk Konsumsi Pemerintah dari Q1 hingga Q4-2019 terus turun, masing-masing 3,36 persen, 1,96 persen, 0,88 persen, dan minus 2,31 persen.

Data tersebut tentu saja mengundang keraguan. Kok bisa indeks harga Belanja Pemerintah turun terus, bahkan deflasi 2,31 persen pada Q4? Dengan inflasi yang rendah, sumber pertumbuhan dari Konsumsi Pemerintah bisa bertahan di 0,26 persen. (Tahun lalu 0,38 persen). Padahal pendapatan (pajak) pemerintah stagnan.

Data inflasi untuk kategori Investasi 2019 juga meragukan, masing-masing tercatat 2,88 persen (Q1), 2,79 persen (Q2), turun menjadi 2,40 persen pada Q3, dan anjlok menjadi 1,40 persen pada Q4 2019. Kok bisa turun terus, dan cukup tajam?

Dan yang terakhir inflasi untuk ekspor dan impor. Pertumbuhan ekonomi 2019 tanpa ekspor dan impor hanya 3,59 persen. Kita tahu nilai nominal ekspor dan impor keduanya turun: ekspor turun 6,34 persen dan impor turun 8,47 persen, Tetapi setelah dikoreksi inflasi, sumber pertumbuhan dari ekspor ternyata hanya minus 0,19 persen. Sedangkan sumber pertumbuhan dari impor anjlok minus 1,62 persen.

Hal ini disebabkan data deflator yang digunakan berbeda: deflator (inflasi) ekspor minus 5,51 persen (deflasi) dan deflator impor hanya minus 0,85 persen, sehingga sumber pertumbuhan dari Ekspor minus Impor menjadi positif 1,43 persen. Dan pertumbuhan ekonomi menjadi 5,02 persen (3,59 persen + 1,43 persen). Jadi, meskipun ekspor turun dan impor turun, artinya kontraksi, tetapi keduanya memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi cukup tinggi: 1,43 persen. Luar biasa.
Semoga BPS berkenan menjelaskan perhitungan inflasi / deflasi di atas," pungkas Wibi. (Adi)

Tidak ada komentar